[CERPEN] Enam Derajat Di Bawah Cakrawala

 

Enam Derajat Di Bawah Cakrawala

Slice Of Life, School, Music

 

Cerita Pendek Musikal

 

Dwi Agiarti - [2014]

8/26/2014

 



“Kau membaca terlalu dekat”  Wanita yang masih nampak muda itu menyapaku.

“Ah…Iya ini begitu menarik” Wanita itu lebih dekat denganku sekarang.

“Aku bawakan cokelat panas untukmu, boleh kulihat apa yang kau anggap menarik itu?” Kuberikan padanya buku yang kutemukan dibawah sofa.

“Ini…, sesungguhnya aku tidak mengerti apa makna buku ini, yang kuketahui ini adalah buku yang penuh dengan coretan dan lirik lagu didalamnya.”

“Ini bukan hanya sekedar buku, ini adalah kenangan.” Wanita itu terlihat tertawa kecil dan membuatku bertanya-tanya maksudnya

“Apa maksud kenangan? Lalu ini milik siapa?” Aku masih melihatnya tertawa, aku juga melihat matanya yang ikut tersenyum.

“Ya ini milikku, buku kenangan yang tidak bosan-bosannya aku melihatnya, ternyata aku begitu ceroboh meletakannya.” Dengan cepat aku mampu menangkap apa maksudnya, mataku beberapa detik tidak berkedip darinya. Ibuku…..Ibuku adalah seorang pemusik, benarkah ini? Selama ini aku melihatnya sebagai wanita anggun yang jika membandingkannya ibuku lebih cantik dari seorang model atau pramugari atau yang lainnya. Ayah memang laki-laki hebat.

            Ibu mendekatiku dan menatap mataku “Kau tidak percaya? Lebih dekat dengan ibu, kau bilang kau tidak mengerti makna buku ini bukan? Ibu akan menceritakannya untukmu.

“Aku ingin mendengarnya bu… mengapa ibu menyembunyikannya dariku? Tetapi aku masih belum bisa percaya wanita seanggun ibu adalah seorang pemusik.” Ibu tertawa lepas dan memegang tanganku seraya berkata “Tidak semua pemusik apa yang kau pikirkan, ibu yakin banyak diluar sana wanita anggun yang membentuk grup musik. Mereka menawan ketika memainkan musik dan bernyanyi diatas panggungnya.”

Melihat cokelat panas yang kini sudah tidak panas lagi, Aku memegang tangan ibu, aku menatap matanya seolah kata hati berbicara, lalu ibu menganggukan maksudku.

 

 

Pukul 06.10 tepat aku menginjakkan kakiku di bangunan ini sebagai pelajar. SMA PELITA itulah nama bangunan ini, rasanya aku tidak sabar untuk melihat lebih dekat bangunan sekolah ini, selama tiga tahun bangunan sekolah ini akan menjadi saksi perjuangan hidup Mei. Aku pun melihat ruangan demi ruangan, langkahku terhenti di salah satu ruangan, ruangan itu terbuka, rasa ingin tahuku mulai menampak, ruangan ini adalah ruangan klub musik sekolah ini aku bisa menyimpulkannya karena banyak alat musik disini, akan tetapi disini seperti sudah tidak ada aktivitas di ruangan ini, alat musiknya juga terlihat kusam dan berdebu. Hasratku tidak terbendung aku memegang alat musik tersebut seraya berpikir sejenak “untuk apa ada ruangan musik dan semua peralatan music?” Hanya dibiarkan seperti ini. Satu hal kesan burukku mulai muncul terhadap sekolah ini.

Bel tanda siswa dan siswi harus segera masuk ke dalam kelas sudah terdengar, aku berlari menuju kelas sepuluh yang ada di lantai dua. Pertemuan pertama kali ini seperti hal nya sekolah lain, perkenalan diri,sekolah, dan kegiatan-kegiatan di sekolah ini. Tampak tidak sedikit senior yang mendatangi kelas demi kelas untuk mengajak juniornya bergabung dengan klub mereka, tetapi mengapa saat seperti ini aku masih memikirkan ruang musik tersebut. Tiba-tiba seorang senior menghampiriku.

“Hei…Selamat datang di sekolah ini, aku Sulli dari klub paduan suara, siapa namamu?” aku tersenyum tipis dan membalas ucapannya

“Ya kak… Senang bisa berkenalan dengan senior Sulli, namaku Mei”.

“Senang juga kenal denganmu junior Mei, kulihat kau hanya diam tidak seperti kawanmu yang lainnya? Ada apa jika kakak boleh tahu?”

“Sejujurnya ketika aku berjalan untuk melihat sekolah ini aku melihat sebuah ruangan yang terbuka pintunya, didalamnya terdapat peralatan-peralatan musik, aku menyebutnya sebagai ruangan musik di sekolah ini karena banyak perlatan musik, akan tetapi sejak senior banyak yang berdatangan aku tidak melihat demo klub musik di sekolah ini”. Aku pun mengutarakan apa yang kupikirkan pada senior Sulli, tetapi mengapa wajahnya menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Kak kenapa kau diam? Kau mengerti maksudku? Apa kakak tahu lebih tentang ruangan dan klub musik di sekolah ini?”.

“Benar ruangan itu adalah ruangan musik di sekolah ini, akan tetapi kini tidak ada lagi musik di sekolah ini”.

“Mengapa kak? Musik itu indah, tidak sedikit sekolah yang sangat senang jika musik mengisi sekolahnya.” Jawaban senior itu membuatku sedikit geram dengan sekolah ini.

“Aku ini adalah anggota klub musik sekolah ini dua tahun yang lalu. Aku dan teman-temanku yang melanjutkan impian senior kami dari klub musik agar musik tetap hidup di sekolah ini.

Tetapi kami pun tidak mengerti dengan keputusan pihak sekolah untuk menghentikan klub musik ini, saat itu kami sudah melakukan berbagai upaya untuk meminta pihak sekolah untuk mencabut keputusan menghentikan klub musik, bukan karena ego kami tapi kami ingin musik berlanjut untuk senior kami nanti. Upaya kami sia-sia pihak sekolah selalu berkata hal yang tidak ingin kami dengar, akhirnya saat itulah aku dan teman-temanku berpisah.

Diantaranya mereka ada yang keluar dari sekolah ini, mungkin terlihat berlebihan tetapi aku mengetahuinya jika musik sudah bagian terpenting baginya, akhirnya ia mengikuti klub musik dari sekolah lain untuk mengasah kemampuannya. Ada juga yang berhenti sekolah dan menjadi tenaga pengajar klub musik dari sekolah lain. Dan hanya aku yang masih bertahan di sekolah ini, lalu aku memutuskan untuk mengasah kemampuanku di bidang suara bersama klub paduan suara.

“Apa Mei menyukai musik/?”

“Ah.. apa?.. hmm ya aku menyukainya kak, banyak orang yang menyukai musik, tetapi dalam memainkan alat musik aku tidak terlalu baik.”

“Kau ini mengingatkanku saat aku masih seumurmu untuk bergabung bersama klub musik di sekolah ini dulu aku berlatih dan berlatih dan akhirnya aku bisa memetik gitar dan bernyanyi untuk sekolah ini.”

“Izinkan aku kak untuk mengembalikan lagi klub musik di sekolah ini, aku akan berlatih untuk lebih baik dalam memainkan alat musik, aku akan mencari anggota lain, aku akan mencoba membicarakannya dengan pihak sekolah, akan tetapi aku butuh dukungan kakak sebagai senior klub musik di sekolah ini dan kembalilah bersamaku dengan klub musik ini kak, aku tahu kakak ingin musik kembali berarti untuk sekolah ini, jadi mari kita berjuang kak!”

Senior itu melihat dan meraih tanganku “aku kembali, aku akan kembali berjuang, terima kasih, aku yakin jika lebih dari satu kita akan bisa meluluhkan pihak sekolah untuk mengembalikan lagi klub musik sekolah ini. Fighting Mei!!! …”

            Keesokan harinya setelah bel menunjukan akhir dari jam pembelajaran aku mencoba untuk meminta bantuan terlebih dahulu dengan guru seni di sekolah kami.

“Permisi Bu Mugi maaf jika Mei mengganggu apa Mei bisa berbicara dengan ibu?” terlihat Ibu Mugi masih sibuk dengan kertas dan pensil di tangannya.

“Oh kau Mei. Silahkan masuk, apa yang kau ingin bicarakan?”

“Mengenai klub musik sekolah ini bu, apa ibu bisa membantuku untuk mengembalikan klub musik di sekolah ini? Aku akan melakukan sebaik mungkin untuk klub musik ini.” Tanganku bergetar akan tetapi hatiku merasa puas setelah mengucapkannya.

“Kau tahu seniormu Sulli? Ia juga sepertimu, dulu ibu selalu melihatnya berbicara sepertimu ini, tanpa Sulli sadari ibu mendukungnya walau Sulli tidak mengetahuinya, akan tetapi setelah teman-teman Sulli sudah sangat geram dengan sekolah ini dan memutuskan meninggalkan Sulli, ibu sudah tidak bisa membantunya lagi karena mereka sudah mempunyai jalan masing-masing. Tapi kini ada Mei dan Sulli tidak sendiri.

Ibu akan mencoba untuk membicarakan lagi dengan pihak sekolah akan tetapi Mei juga harus membantu ibu untuk mencari dua anggota lainnya untuk mengisi klub musik kalian, setelah itu ibu yakin dengan apa yang akan ibu bicarakan nanti kepada pihak sekolah itu akan menjadi titik terang kembali hidupnya musik di SMA PELITA. Kau mengerti Mei? Sekarang bicarakan dengan seniormu Sulli dan berusaha mencari dua orang yang akan menjadi kunci sukses klub musik sekolah ini.”

“Sangat mengerti bu. Aku sangat berterima kasih dengan Bu Mugi, aku akan membicarakan dengan senior Sulli dan mencari anggota yang terbaik. Aku permisi bu.” Dengan senyum yang begitu lepas dan mata yang berbinar aku meninggalkan ruang Bu Mugi dan mencari Kak Sulli.

            Sudah hampir 40 menit aku mencari Kak Sulli di sekitar sekolah dan tiap ruangan, tetapi aku tidak menemukannya kurasa Kak Sulli sudah pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk membicarakannya keesokan harinya.

Di persimpangan arah jalan pulang aku melihat pelajar yang menggunakan seragam sama sepertiku, kupikir ia sedang mencari stik drum, aku tidak mengetahui kelas berapa dia. Aku memikirkan tentang dua orang yang dibicarakan Bu Mugi. Apa ia bisa memainkan drum?

Aku beranikan diriku menyapanya

“Kau siswi SMA PELITA bukan?”

Ia masih asyik memilih stik drumnya, akhirnya aku meninggikan suaraku

“Hei! Kau dengar aku?”

Ia menoleh melihatku dengan tatapan menyeramkan “Kau siapa? Ya aku siswi disana, kau ini mengganggu saja.”

“Aku tahu kau disini kau bisa memainkan drum dan kau menyukai musik bukan?”

“Lalu apa urusanmu?”

“Aku ingin kau bergabung dengan klub musik SMA PELITA”

“Kau ini aneh ya… sudah dua tahun aku bersekolah disana musik itu tidak berarti lagi bagi sekolah itu”

“Aku tahu tapi kini aku, Bu Mugi, dan seniorku Kak Sulli akan berusaha mengembalikan klub musik sekolah itu dan kami membutuhkan dua orang untuk bergabung bersama kami. Kulihat kau bisa memainkan drum dan aku ingin kau bergabung bersama kami.”

“Jika begitu. Ya menarik, aku juga ingin menunjukkan permainanku untuk sekolah itu akan tetapi aku minta kau dan anggota lainnya agar bersungguh-sungguh. Aku tidak menyukai siapapun yang bermain-main.”

“Baiklah. Kupikir kau tipekal orang yang serius, maaf jika aku menyapa kau dengan suara tinggiku, Siapa namamu senior?”

“Cukup panggil aku Seiya.”

            Keesokan harinya pada jam istirahat aku menuju kelas Kak Sulli. Aku mengatakan apa yang kubicarakan dengan Bu Mugi dan dua orang yang akan mengisi klub musik ini, Akupun mengatakan kesetujuan senior Seiya untuk bergabung. Hanya tinggal satu orang.

“Kau tidak perlu khawatir Mei, Juniorku yang tak lain tetanggaku yang berumur sama sepertimu ia pandai memainkan piano, aku yakin ia akan setuju. Sekarang kau ikut aku menemui Bu Mugi untuk kelanjutan klub musik ini

            Sesampai di ruang Bu Mugi

“Permisi Bu Mugi, bisa kami masuk?”

Dengan senyum tipisnya, Bu Mugi berkata “Tidak usah panjang lebar aku yakin kalian optimis. Kalian juga pasti sudah menemukan dua orang itu, Latihanlah mulai dari sekarang untuk Acara Penyambutan Siswa Dan Siswi Baru SMA PELITA, kalian akan menjadi penutup acara tersebut, dan ibu meminta kalian untuk menulis lagu pertama kalian sendiri. Dengan bersemangat aku dan Kak Sulli kompak berkata “Kami sangat siap!!!”. Setelah kami keluar dari ruang Bu Mugi kami pun saling bebagi peluk seakan menunjukkan kami sangat dekat dan akan menjadi rekan.

            Bel pembelajaran berakhir terdengar, aku keluar dari kelasku dan mencari Kak Seiya, akhirnya aku menemukannya di lapangan sekolah. Aku menarik tangannya menuju kelas Kak Sulli yang sudah siap dengan anggota barunya. Kamipun saling menyapa dan mengenalkan diri kami masing-masing termasuk dengan Gadis Piano itu yang bernama Dee. Kami berjalan bersama menuju ruang musik membersihkan serta menata semua peralatan yang ada di ruang musik serta menulis lagu debut pertama kami sebagai klub musik di sekolah ini.

            Upacara Penyambutan Siswa Dan Siswi Baru dimulai. Terlihat aula sekolah kami dipenuhi siswa dan siswi SMA PELITA. Tak terkecuali kami yang sibuk mempersiapkan debut kami sebagai klub musik yang akan kembali untuk sekolah ini. Kamipun sudah menyelesaikan lagu pertama kami yang akan kami bawakan pada acara ini. Lagu tersebut kami berikan judul ‘Hari Pertama’

 

~Hari Pertama

 

Aku berdiri di atas

Panggung yang selalu ku dambakan

Di tengah eluan

Tepuk tangan dan juga semangat

          Dengan latihan yang ketat

          Ku lampaui dinding diriku

          Sambut hari ini

          Tirai kesempatan pun terbuka

Akupun tidak menari sendiri

Ada hari ku nangis di jalan pulang

Aku bernyanyi tanpa berpikir

Ada hariku hilang percaya diri

Selalu sainganku terlihat seolah bersinar

          Reef : Impian ada di tengah peluh

                     Bagai bunga yang mekar secara perlahan

                     Usaha keras itu tak akan mengkhianati

                                Impian ada di tengah peluh

                                Selalu menunggu agar ia menguncup

                                Suatu hari pasti sampai harapan terkabul

Lampu sorot yang ternyata

Begitu terang seperti ini

Bagai malam panjang

Menjadi fajar mentari pagi

          Sudah pasti aku tidak

          Mau kalah dari kakak kelasku

          Kami ingin buat

          pertunjukkan diri kami sendiri

Ada hariku menangis sedih

Saat ku libur karena ku cedera

Ada hariku sudah menyerah

Imbangi sekolah beserta latihan

Tapiku mendengar encore dari suatu tempat

          Impian setelah air mata

          Bunga senyuman setelah tangis berhenti

          Wujudkan terus usaha keraspun akan mekar

                    Impian setelah air mata

                    Kupercaya takkan kalah dari angin hujan

                    Sampai doaku mencapai langit cerah

Penuh semangat mari menari

Penuh semangat mari bernyanyi

Tanpa lupakan tujuan awal

Kerahkan seluruh tenaga

          Reef : Impian ada di tengah peluh

                     Bagai bunga yang mekar secara perlahan

                     Usaha keras itu tak akan mengkhianati

                                Impian ada di tengah peluh

                                Selalu menunggu agar ia menguncup

                                Suatu hari pasti sampai harapan terkabul

 

                                                                                                  

 

 

 

 

 

 

 

                                                                              Dipopulerkan AKB48 - SHONICHI

 

Bu Mugi pun terlihat tersenyum melihat penampilan kami, kami pun diberikan tepuk tangan oleh siswa dan siswi SMA Pelita tak terkecuali pihak-pihak sekolah kami membalas senyum terhadap mereka. Kami menampilkan kembali apa yang sudah terkubur selama dua tahun dan kini kami hidupkan kembali menjadi sesuatu yang dapat dinikmati.

Senja kini sudah mulai nampak, bulan itu kini terlihat sekitar enam derajat. Aku,Kak Sulli,Kak Seiya,dan Dee kini kami seperti empat bintang yang bersinar di suatu senja di bawah cakrawala.

            “Lalu sekarang mereka dimana bu? Apa ibu masih berkomunikasi dengan mereka? Aku ingin menemukan teman seperti mereka, mereka sangat unik bu, memiliki karakter khas masing-masing lihatlah teman ibu yang bernama Seiya meskipun ia dingin ia akan tetap memberikan yang terbaik untuk klub musik sekolah ibu”

“Ya Ren, mereka memang unik dan keunikan mereka lah yang membuat ibu bersyukur bersahabat dengan mereka, sampai saat ini ibu masih menjaga komunikasi dengannya, terkadang kami selalu membahas penampilan kami dahulu dan pergi ke sekolah kami untuk melihat junior kami yang akan melanjutkan perjuangan kami. Sekarang peluk ibu dan berjanji pada ibu bahwa Rena anak ibu yang sangat manis akan selalu berjuang dan berjuang untuk meraih apa yang Rena ingin raih, karena dibalik perjuangan selalu didahulukan niat, dan niat dan kerja keras yang sungguh-sungguh akan menjadi pemenangnya. Sekarang anak ibu yang manis harus segera tidur besok kau akan memulai perjuanganmu”

Siap bu!!! Ibu mencium keningku dan menunjukkan senyum indahnya.

 

fyi, ini cerpen yang dibuat anak 17 tahun udah lama banget baru post hahaha...


 

Post a Comment

0 Comments